Home > Update Indonesia > Apa Kabar Guru: Sertifikasi dan Kualitas

Apa Kabar Guru: Sertifikasi dan Kualitas

December 5, 2011 Leave a comment Go to comments

Pada momentum Hari Guru tanggal 25 November 2011, nasib guru kembali menjadi perhatian. Masalah yang terutama mengemuka, selain masalah klasik tentang kesejahteraan guru, secara spesifik adalah problem sertifikasi guru dan pengawasan kualifikasi guru.

Setidaknya ada tiga permasalahan yang mengemuka terkait sertifikasi guru. Pertama, sistem dan prosedur sertifikasi. Kedua, kompensasi tunjangan sertifikasi. Ketiga, pengawasan kualitas guru yang sudah disertifikasi.

Sertifikasi guru

Program sertifikasi guru dimulai sejak tahun 2007. Program ini bertujuan untuk menjamin kualitas guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah di Indonesia. Kebutuhan ini berangkat dari kenyataan di lapangan bahwa masih sangat sedikit tenaga pengajar yang sudah memenuhi standar profesi guru di seluruh Indonesia.

Dari tingkat pendidikan, hingga tahun 2007 dari sekitar 2,7 juta orang guru di seluruh Indonesia, sebanyak 63,1 persen belum bergelar minimal sarjana. Jumlah guru terus meningkat, hingga tahun 2011 jumlah guru di seluruh Indonesia tidak kurang dari 2.925.676 orang.

Sejak dimulai tahun 2007, baru terdapat 1.101.552 guru yang telah mengikuti sertifikasi. Kemudian hingga tahun 2010, guru yang mengajukan sertifikasi mencapai 2.791.204 orang. Jumlah guru yang mendapat sertifikasi pada tahun 2010 sebanyak 746.727 guru; dan pada tahun 2011 sebanyak 355.294. Total guru yang lulus sertifikasi pada 2010 dan 2011 sebanyak 1.102.021 orang. Pada tahun 2012, kuota jumlah sertifikasi guru sebanyak 300.000 orang. Sementara ditargetkan setidaknya pada 2013 program sertifikasi guru dapat diselesaikan.

Hingga tahun 2011, terdapat sekitar 961.688 guru yang tidak lolos seleksi sertifikasi. Beberapa faktor penyebabnya terkait dengan persyaratan mengikuti sertifikasi, yaitu antara lain harus sudah mendapatkan gelar sarjana (S-1) atau sudah berusia minimal 50 tahun, dan telah memiliki masa kerja selama 20 tahun.

Sistem dan prosedur sertifikasi

Pelaksanaan sertifikasi guru diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dimana disebutkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan. Prosedur teknis pelaksanaan sertifikasi guru juga diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2011 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.

Sejak tahun 2011, sistem pelaksanaan sertifikasi guru tidak lagi melalui penilaian portofolio seperti sebelumnya. Namun, kelayakan guru untuk mendapatkan sertifikat pendidik diberikan dengan menempuh pendidikan dan latihan profesi guru di lembaga pendidikan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia. Sistem penilaian portofolio hanya disediakan untuk kuota 1 persen dari total kuota 300.00 orang untuk tahun 2011.

Pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) untuk sertifikasi guru akan berlangsung selama 10 hari di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) negeri dan swasta yang ditunjuk oleh pemerintah. Seleksinya meliputi uji kompetensi standar yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).

Mekanisme prosedur pendaftaran bagi calon seleksi sertifikasi juga mulai tahun 2012 akan berubah menjadi sistem online. Para guru mendaftarkan diri dengan mengisi data online yang akan diurutkan mulai dari data usia, masa kerja, pangkat golongan, dan data uji kompetensi. Untuk pendaftaran di daerah-daerah yang masih sulit fasilitas komputer dan internet, akan didatangkan tim panitia pendaftaran. Sistem pendaftaran online dan komputerisasi diharapkan dapat meminimalisir manipulasi data dan kolusi dalam seleksi sertifikasi guru. Namun, sistem sertifikasi guru sejauh ini dikritik masih diskriminatif terhadap guru honorer. Pemerintah hanya mengakui guru honorer yang mendapatkan honorarium dari APBN/APBD. Sementara, cukup banyak guru honorer yang mendapatkan honorarium, misalnya dari yayasan dan swasta, yang tidak dapat diikutsertakan dalam program sertifikasi.

Kompensasi tunjangan sertifikasi

Bagi guru yang sudah mendapatkan sertifikasi berhak mendapatkan tunjangan berupa tambahan penghasilan sebesar satu bulan gaji pokok bagi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau setidaknya Rp 1.500.000,- bagi guru non PNS. Pembayaran tunjangan ini dikeluhkan masih banyak terjadi kelambatan pembayarannya dari jadwal seharusnya. Bagi guru PNS, tunjangan profesi pada tahun 2007 disalurkan dari Pusat langsung ke rekening masing-masing guru penerima. Sedangkan pada tahun 2008 dan 2009 tunjangan profesi guru PNS disalurkan melalui dana dekonsentrasi di masing-masing dinas pendidikan provinsi.

Kemudian mulai tahun 2010, Peraturan Menteri Keuangan N0. 119/2010 menetapkan bahwa tunjangan profesi bagi sebagian guru PNS di daerah dibayarkan per semester melalui transfer ke daerah di kantor dinas pendidikan kabupaten/kota masing-masing. Namun, mekanisme ini kemudian dikeluhkan, karena dana tunjangan profesi ini kemudian tidak langsung disalurkan ke guru-guru penerima. Kelambatan disebabkan juga karena ketidaksesuaian antara data dari pusat dan data di daerah.

Evaluasi sertifikasi dan kualifikasi

Program sertifikasi guru yang sudah berjalan ini mendapatkan kritik, terutama dari sisi performa kualitas guru pasca-sertifikasi. Menurut Panitia Sertifikasi Guru Rayon X Jawa Barat, berdasarkan evaluasi nasional didapati bahwa hanya sekitar 20 persen dari guru yang telah lulus sertifikasi yang menunjukkan peningkatan kinerja mengajar. Sementara 70 persen guru tidak berubah kinerja mengajarnya, dan 10 persen bahkan menurun kinerjanya. Kritik terhadap sertifikasi guru juga bahwa banyak guru mempersepsi sertifikasi sebagai hasil akhir, padahal sertifikasi adalah prasyarat untuk menunjukkan kinerja guru profesional di kelas untuk menjamin tersedianya tenaga pengajar yang berkualitas. Guru juga banyak yang terdorong untuk mengejar sertifikasi hanya untuk meningkatkan tunjangan penghasilan.

-Antonius Wiwan Koban-


Banyak guru mempersepsi sertifikasi sebagai hasil akhir, padahal sertifikasi adalah prasyarat untuk menunjukkan kinerja guru profesional di kelas.

About these ads
Categories: Update Indonesia
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: