Home > Wacana > Upaya di Akar Rumput untuk Hapus Perdagangan Manusia

Upaya di Akar Rumput untuk Hapus Perdagangan Manusia


Indonesia masih menjadi salah satu negara yang signifikan dalam mata rantai perdagangan manusia. Dalam peta dunia, Indonesia sekaligus di dalamnya terdapat korban, pelaku, agen, dan penerima perdagangan manusia. Dalam skala lebih luas, Indonesia terutama menjadi korban kejahatan universal perdagangan manusia ini. Untuk itu, upaya-upaya memerangi perdagangan manusia harus lebih gencar dilakukan, bahkan sejak dari kalangan masyarakat akar rumput.

Kita menyambut baik adanya komitmen politik dari Pemerintah untuk turut serta aktif memerangi perdagangan manusia. Komitmen dari Pemerintah sudah cukup banyak ditunjukkan dengan pembuatan peraturan perundangan anti perdagangan manusia. Juga Pemerintah telah meratifikasi konvensi internasional terkait anti perdagangan manusia.

Komitmen saja tentulah tidak cukup. Harus ada upaya-upaya sistematis tidak hanya di tingkat elit pemangku kepentingan namun juga sampai ke tingkat kalangan masyarakat akar rumput. Ini menjadi penting mengingat korban-korban perdagangan manusia berarti kita bicara tentang masyarakat grass root hingga ke pelosok pedesaan.

Kita menyambut baik adanya lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang juga peduli dan mendukung komitmen Pemerintah untuk menghapuskan dan memerangi perdagangan manusia. Kerja sama pemangku kepentingan meliputi Pemerintah, masyarakat swasta, dan masyarakat sipil tentunya dibutuhkan. Birokrasi yang korup juga mestinya tidak ada lagi sehingga celah bagi calo-calo dan agen-agen nakal yang berniat mengambil keuntungan dari eksploitasi human trafficking dapat diperangi.

Di tingkat masyarakat akar rumput, patut disambut baik dan didukung upaya untuk memberdayakan masyarakat di tingkat akar rumput sendiri untuk turut berpartisipasi aktif menjadi pelaku aksi memerangi perdagangan manusia. Salah satunya yang baru-baru ini menegaskan lagi komitmen untuk melakukan upaya-upaya sistematis untuk memerangi perdagangan manusia adalah Aisyiyah, organisasi perempuan di lingkungan Muhammadiyah.

Organisasi tersebut termasuk salah satu lembaga yang melakukan strategi penguatan di masyarakat akar rumput untuk memerangi perdagangan manusia. Antara lain mulai dari penguatan basis data penanganan human trafficking yang dikelola di seluruh perwakilan organisasinya di seluruh Indonesia. Ini mengingatkan kita pada pentingnya menggalang kekuatan di masyarakat akar rumput, apalagi mengingat korban perdagangan manusia itu sendiri banyak berasal dari kalangan itu.

Kelompok masyarakat di akar rumput terutama perempuan dan anak dari sudut-sudut kota besar hingga pelosok-pelosok pedesaan sejak sekian lama rentan menjadi korban perdagangan manusia. Sudah saatnya memberdayakan mereka sendiri untuk pasang mata pasang telinga dan berani melaporkan kejadian-kejadi yang patut diduga sebagai bagian dari perdagangan manusia, apalagi bila korbannya adalah diri mereka sendiri, atau kenalan dekatnya di lingkungan terdekatnya.

Salah satu hal krusial dalam problem perdagangan manusia terkait migrasi pekerja antar wilayah apalagi negara adalah aspek legalitas dan akurasi data pekerja migran. Selama ini mata kita mungkin lebih banyak tertuju pada tanggung jawab dan wewenang birokrasi dan agen-agen institusional lainnya. Namun demikian sebetulnya ada celah strategi yang signifikan pula, yaitu memberdayakan paguyuban di tingkat grass root.

Seperti diketahui, perekrutan calon tenaga kerja migran paling banyak adalah melalui agen mendatangi dan mengajak orang-orang di pedesaan untuk direkrut menjadi calon tenaga kerja. Tiap tahunnya dari berbagai penjuru pedesaan di Indonesia berbondong-bondong orang direkrut dan dimigrasikan ke tempat lain untuk menjadi pekerja migran. Pada proses itu, sebetulnya masyarakat dan otoritas paguyuban setempat dapat diberdayakan. Mereka dapat membuat suatu mekanisme pengawasan, minimal paguyuban komitmen untuk mencatat dan mendokumentasikan data-data pekerja yang direkrut dan diberangkatkan dari daerahnya. Lalu secara berkala paguyuban memonitor keberadaan pekerja-pekerja itu.

Bila mekanisme demikian dapat pula diterapkan, maka kita bisa berharap bahwa kasus-kasus getir yang dialami oleh pekerja migran dapat dicegah. Paling tidak, masyarakat dapat memonitor keberadaan dan nasib anggota-anggota lingkungannya, yang jangan sampai kejadiannya baru heboh setelah anggota masyarakatnya kembali ke kampung halamannya sudah menjadi korban-korban kasus perdagangan dan eksploitasi manusia.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: