Home > Wacana > Mudik Lebaran dengan Sepeda Motor

Mudik Lebaran dengan Sepeda Motor

September 8, 2010 Leave a comment Go to comments

Tradisi Mudik Lebaran dalam beberapa tahun terakhir ini diwarnai peningkatan arus mudik dengan berkendaraan sepeda motor. Gelombang mudik sepeda motor meningkat seiring melemahnya daya beli masyarakat dan tersedianya moda transportasi mudik yang lebih memadai untuk rakyat. Pada musim mudik Lebaran 1 Syawal 1431 H atau bertepatan pada 10-11 September 2010 ini, diperkirakan setidaknya 4 juta sepeda motor digunakan sebagai transportasi untuk mudik Lebaran. Angka ini diprediksi terjadi peningkatan dari angka tahun 2009 lalu yaitu tercatat setidaknya 3,9 juta sepeda motor digunakan pemudik dari Jakarta menuju berbagai daerah. Sebelumnya, pada tahun 2008 tercatat setidaknya 3,2 juta pemudik dengan sepeda motor.

Yang menjadi masalah adalah rawannya kecelakaan sepeda motor dalam angkutan mudik Lebaran, karena sepeda motor bukan didesain untuk bepergian antar kota antar propinsi bahkan antar pulau. Menurut catatan angka kecelakaan pemudik selama musim mudik Lebaran tahun 2008-2009 lalu, kecelakaan paling banyak dialami oleh pemudik sepeda motor. Pada Lebaran 2010 ini hingga H-3 tanggal 8 September 2010 saja, tercatat sudah 209 korban tewas akibat kecelakaan mudik, sebagian besar adalah kendaraan roda dua.

Pada musim mudik Lebaran tahun 2008 tercatat 1.052 kecelakaan di mana sekitar 800 kasus atau 76 % adalah kecelakaan sepeda motor. Pada tahun 2009, tercatat 1.544 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 576 jiwa, sebagian terbesar dialami oleh pemudik sepeda motor.

Yang memprihatinkan pula adalah bahwa pemudik sepeda motor banyak yang berangkat sekeluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak (bisa lebih dari satu orang). Tak jarang, satu sepeda motor dipakai untuk mengangkut 2 orang dewasa dan 2 hingga 3 anak balita dan bayi, belum lagi ditambah dengan mengangkut tas perbekalan mudik.

Kondisi sepeda motor yang sulit diharapkan untuk stabil sebagai moda kendaraan jarak jauh dan padatnya arus kendaraan mudik serta disiplin pengendara lalu lintas, membuat situasi yang rawan bagi kecelakaan sepeda motor.

Kondisi bepergian dengan sepeda motor untuk perjalanan jauh berjam-jam di tengah cuaca panas, hujan, terik, debu, dan bising lalu lalang kendaraan sungguh bukan kondisi yang layak untuk anak-anak yang diikutkan dalam perjalanan mudik. Tak heran, setiap tahunnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menghimbau masyarakat agar tidak mengangkut anak-anak dan balita apalagi bayi dalam perjalanan mudik dengan sepeda motor.

Pemerintah melalui Departemen Perhubungan sempat hendak melarang masyarakat untuk mudik dengan sepeda motor. Namun apa daya, larangan ini menjadi mustahil mengingat masyarakat saat ini banyak mengandalkan moda transportasi sepeda motor, untuk keseharian hingga untuk perjalanan jauh.

Masalah krusial terkait pemudik sepeda motor adalah masih buruknya ketersediaan moda transportasi yang layak bagi pemudik. Tarif yang melonjak naik ketika musim mudik, kapasitas angkutan yang membludak tidak tertampung, dan ketidaknyamanan dan ketidakamanan dalam transportasi publik rakyat, membuat masyarakat mengandalkan mudik dengan sepeda motor.

Sesungguhnya, mudik dengan sepeda motor lebih merupakan keterpaksaan. Pemudik terpaksa menyiasati sulitnya transportasi untuk menuju tempat mudik, dan untuk transportasi lokal di tempat mudik. Keterpaksaan yang memilukan, melihat kepentingan anak-anak serta balita dan pengasuhnya (umumnya isteri yang dibonceng dan memegang anak) dikalahkan oleh keterpaksaan angkutan mudik dengan sepeda motor.

Fenomena seperti ini seharusnya dihilangkan. Solusi-solusi alternatif harus disiapkan antara lain mengakomodasi gerbong-gerbong kereta, kapal-kapal ferry untuk memuat sepeda motor yang hendak dibawa pemudik ke kampung halaman, daripada si pemudik mengendarai sepeda motor dari tempat berangkat hingga tempat tujuan. Namun, ketersediaan angkutan kereta, ferry, bus antar kota sendiri pun hingga kini masih menjadi problem besar bagi pihak penyelenggara angkutan umum.

Upaya perlindungan untuk pemudik sepeda motor dapat dilakukan dengan menempatkan posko-posko istirahat untuk pemudik sepeda motor. Sosialisasi dan himbauan untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri untuk menempuh jarak terlalu jauh dan lama; serta penyediaan fasilitas kesehatan di tempat-tempat istirahat pemudik.

Semoga pemudik yang masih terpaksa menggunakan sepeda motor dapat berhati-hati di jalan, selamat sampai tempat tujuan, dan dapat bersilaturahmi merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama sanak saudara handai taulan di kampung halaman.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute

antonwk@cbn.net.id

 

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: