Home > Wacana > Brutalisme Kelompok Sosial

Brutalisme Kelompok Sosial


Rasa aman di tengah masyarakat kembali terkoyak-koyak. Berbagai tindak kekerasan antar kelompok masyarakat terjadi lagi di beberapa tempat. Belum hilang dari ingatan kita tindakan penyerangan dan penusukan terhadap pemuka jemaat HKBP Bekasi, kemudian terjadi kerusuhan di Tarakan, dan bentrokan berdarah antar kelompok masyarakat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Juga pembakaran beberapa rumah tempat tinggal dan tempat ibadah jemaah Ahmadiyah di Jawa Barat. Yang meresahkan adalah ekskalasi tindak kekerasan yang terlihat semakin brutal.

Sesama masyarakat sipil tidak hanya terlibat insiden penganiayaan, namun ternyata insiden melibatkan penggunaan senjata tajam, dari obeng tajam, pisau, dan senjata api. Korban berjatuhan, tidak hanya luka aniaya, namun juga korban jiwa. Peristiwa yang terjadi di ruang publik, menebarkan atmosfir ketakutan dan keresahan pada masyarakat. Orang yang tidak terlibat perkara masalahnya  dapat juga menjadi korban bentrokan dan penganiayaan.

Sementara itu, tak dapat terhindarkan, peran aparat kepolisian menjadi sorotan. Kepolisian kembali menuai kritik dari masyarakat karena terlihat tidak sigap dan tidak menampakkan fungsi yang berarti dalam mengantisipasi dan menangani insiden kekerasan masyarakat yang bahkan terjadi dengan brutal dan kasat mata. Tak sedikit masyarakat yang berkomentar di situs jejaring sosial bahwa aparat kepolisian terkesan membiarkan tindak anarkis dan brutalisme di masyarakat.

Konflik antar kelompok masyarakat entah apa pun duduk perkara sebelumnya, rawan melebar menjadi konflik antar kelompok identitas, dengan dipanasi oleh provokasi mengarah pada suku, agama, ras, dan antar golongan. Secara psikologis, manusia sebagai makhluk sosial memang tidak lepas dari identitas-identitas sosial, di antaranya identitas afiliasi seperti suku, agama, ras, dan golongan itu.

Sadar tidak sadar, dalam interaksi sosial, terbentuk kotak-kotak yang memisahkan individu dalam kelompok dengan invididu lainnya, melalui mekanisme psikologi “in group” dan “out group”. Ancaman yang terjadi pada “in-group” seseorang, mudah memicu rasa keterlibatan individu dengan konflik itu pula. Kemudian terjadilah konflik antar kelompok masyarakat yang semakin meluas.

Brutalisme kelompok sosial tidak dapat dibiarkan saja. Pembiaran dapat menyebabkan melemahnya persepsi jaminan penegakkan hukum oleh aparat keamanan. Pembiaran dapat memberi penguatan pada sikap main hakim sendiri oleh masyarakat. Apalagi dalam kejadian tindak anarki oleh masyarakat secara berkelompok (group violence).

Menurut perspektif psikologi, tindak agresivitas yang dilakukan di dalam kelompok membuat situasi menjadi anonim, di mana pelaku tindakan agresif dan anarkis sangat mudah berbaur dengan identitas kelompok, dan menjadi tidak dikenali. Individu mendapat penguatan persepsi bahwa tindakannya tidak akan dikenali karena dilakukan dalam kelompok. Pertanggungjawaban moral individu pun melemah, berbeda dengan tindakan agresif dan anarki yang dilakukan secara individu, bukan dalam kelompok.

Oleh karena itu, dinamika brutalisme dalam kelompok-kelompok sosial perlu diwaspadai. Aparat penegak ketertiban dan keamanan perlu melakukan tindakan tegas terhadap individu yang terbukti melakukan tindakan brutal dan anarki. Group violence harus diantisipasi dan dihindari, dan sanksi pidana atas dasar hukum yang dilanggar oleh individu harus dikenakan secara tegas.

Bicara tentang tindakan brutalisme dan anarki, tidak lepas dari tiga faktor: pelaku, korban, dan penegak hukum. Sering kali tindakan penegak hukum terkesan tidak tegas, dan memicu persepsi bahwa penegak hukum melindungi pelaku, atau tidak berdaya menindak pelaku. Hal ini yang harus dihindari, agar brutalisme dan anarkisme tidak justru dikuatkan karena aparat penegak hukum terkesan melakukan pembiaran dan tidak mampu bertindak tegas, dan menegakkan hukum positif.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute antonwk@cbn.net.id

 

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: