Home > Wacana > Persepsi Risiko dan Kesiapan Bencana Alam

Persepsi Risiko dan Kesiapan Bencana Alam

November 5, 2010 Leave a comment Go to comments

Hari-hari ini Indonesia berduka dengan musibah bencana alam yang terjadi berganti dan bersamaan. Belum pulih dan tertangani bencana banjir Wasior, Papua, tanah air kita sudah didera bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi. Masih disusul lagi dengan gejala 22 gunung berapi yang tersebar di kepulauan Nusantara kita yang menunjukkan peningkatan aktivitas.

Tanah air kita sungguh-sungguh dihadapkan pada risiko bencana alam yang meningkat dalam waktu bersamaan. Banjir Wasior memprihatinkan kita karena penanganannya yang terkesan kurang perhatian dari pemerintah pusat. Ini menjadi tipikal mitigasi bencana alam yang terjadi jauh dari sentra pemerintahan di Jakarta. Tsunami Mentawai memprihatinkan kita selain karena respon darurat tanggap bencana yang terhambat oleh banyak faktor termasuk kondisi lapangan yang sulit ditempuh. Letusan gunung Merapi memprihatinkan kita karena letusannya kali ini dapat dikatakan lebih parah dari sebelumnya. Kendala evakuasi tidak hanya masalah fisik namun juga psikologis.

Respon tanggap bencana kita di tataran lokal dan nasional nyata-nyata perlu diperbaiki. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikritik kurang sigap dan efektif dalam koordinasi respon tanggap bencana. BNPB sendiri beralasan bahwa sulitnya koordinasi karena di tingkat lokal daerah tidak semuanya ada Badan Penanggulangan Bencana.

Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.

Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.

Apalagi kita juga harus menyebut bahwa sementara para korban bergulat untuk bertahan hidup, namun pejabat publik malah sempat-sempatnya pergi ke luar negeri untuk alasan studi banding yang sudah diprogramkan. Orang nomor satu di negara kita (RI-1) pun sempat mengecewakan kita saat ketika terjadi bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi, beliau entah di mana, yang ternyata juga masih berada di tengah kunjungan ke negara lain, bahkan memilih melakukan koordinasi penanganan bencana dari nun jauh di negara yang sedang dikunjunginya, dan tidak langsung kembali ke tanah air sebagai tanda empati dan komitmen terhadap masalah rakyat.

Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.

Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: