Home > Wacana > Menagih Janji MDGs

Menagih Janji MDGs


Memasuki tahun 2011, berarti tinggal tersisa lima tahun untuk target waktu pencapaian semua tujuan pembangunan milenium atau millenium development goals (MDGs) pada 2015. Indonesia termasuk salah satu negara yang berkomitmen untuk mencapai MDGs. Tinggal sepertiga waktu lagi, bagi Indonesia untuk memenuhi janji pencapaian target MDGs.

MDGs berisi daftar sasaran-sasaran pembangunan yang menjadi tantangan pembangunan di seluruh dunia. Deklarasi MDGs telah diadopsi oleh 189 negara dan telah ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara, termasuk Indonesia, pada Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York, 8 September 2000, difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ada 8 tujuan MDGs yang dikonkretkan dalam 18 target dan indikator kemajuan yang terukur. Ke-8 tujuan itu adalah: (1) Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, (2) Mencapai Pendidikan untuk Semua, (3) Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, (4) Mengurangi kematian anak, (5) Meningkatkan kesehatan Ibu, (6) Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, (7) Memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan (8) Mengembangkan kemitraan global.

Karena dirumuskan dalam sasaran, target, dan indikator maka konsekuensinya, negara-negara yang berkomitmen dalam MDGs wajib membuat laporan rutin secara berkala tentang pencapaian yang sudah dilakukan. Karena dirumuskan dalam indikator kemajuan yang terukur, maka angka-angka dan statistik menjadi penting dalam setiap laporan MDGs.   Laporan dari masing-masing negara, kemudian dibahas dalam pertemuan regional untuk membahas kemajuan regional dalam pencapaian MDGs. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembahasan dalam konperensi tingkat tinggi dunia, untuk membahas kemajuan global dalam pencapaian MDGs. Indonesia setiap tahunnya juga mempublikasikan laporan pencapaian MDGs. Secara nasional, pelaporannya dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Sebagai laporan resmi dari komitmen yang telah dideklarasikan secara mendunia, maka laporan MDGs suatu negara sangat signifikan. Secara langsung maupun tidak langsung, laporan MDGs menjadi laporan “prestasi” pencapaian target. Angka-angka statistik yang dilaporkan dan dikemas dalam format laporan yang menarik dan canggih, dapat menggambarkan apa yang telah dicapai dari komitmen negara pelaksana MDGs.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah melaporkan pencapaian kumulatif Indonesia dalam target-target MDGs hingga tahun 2010. Menyimak laporan Bappenas, pencapaian MDGs Indonesia dinyatakan optimistik. Angka-angka laporan pencapaian MDGs Indonesia menunjukkan bahwa sebagian target sudah berhasil Indonesia capai, bahkan ada target-target yang dikatakan tercapai melebihi apa yang ditargetkan. Misalnya untuk bidang menanggulangi kemiskinan, proporsi penduduk dengan pendapatan per kapita kurang dari 1 USD per hari telah menurun dari 20,6 persen pada 1990 menjadi 5,9 persen pada 2008, atau dengan kata lain, telah mencapai pengurangan lebih dari separuh dari kondisi di tahun 1990.

Memang Bappenas menyatakan pencapaian MDGs Indonesia dalam tiga kategori, yaitu (1) target-target yang telah dicapai, (2) target-target yang telah mencapai kemajuan signifikan, (3) target-target yang masih perlu kerja keras untuk mencapai sasaran pada 2015. Tujuan 1 (Menanggulangi kemiskinan), dan Tujuan 3 (Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan) serta Tujuan 6 (Memerangi penyakit menular) dilaporkan dalam kategori 1 yaitu sudah tercapai. Tujuan 6 yang dikatakan sudah tercapai adalah pada indikator pemberantasan prevalensi tuberkulosis.

Bila kita menyimak laporan pencapaian MDGs Indonesia yang lebih lengkap, akan tampak kesan yang optimistik dari pencapaian Indonesia. Angka-angka yang dilaporkan menunjukkan kemajuan signifikan dari kondisi tahun 1990, 2000, hingga 2010.

Sejatinya, angka-angka statistik perlu divalidasi dalam kondisi empiris di lapangan. Apakah laporan pencapaian MDGs Indonesia juga melaporkan bagaimana validasi data-datanya dengan kondisi empiris pada masyarakat? Bila tidak, maka laporan pencapaian MDGs Indonesia dapat terjebak pada laporan pencitraan, yang dikemas dengan angka-angka dan format pelaporan yang indah-indah.

Komitmen MDGs yang menjadi janji bagi anak bangsa, apabila pemenuhannya dikemas secara kosmetika, maka akan dapat mencederai pencapaian menjadi pencitraan semata. Kita berharap dalam lima tahun tersisa ini, janji-janji MDGs dapat dibuktikan pencapaiannya dengan monitoring dan validasi yang memadai pada data-data yang dilaporkan.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: