Home > Wacana > Konflik Mesir dan Perlindungan TKI

Konflik Mesir dan Perlindungan TKI

February 4, 2011 Leave a comment Go to comments

Konstelasi politik di negara-negara Timur Tengah yang sedang bergejolak pada hari-hari ini, menjadi panggung bagi Pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan warga negara Indonesia yang berada di sana. Betapa tidak, mengingat banyaknya jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang juga sedang berada di negara-negara Timur Tengah, termasuk para pekerja migran yaitu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sana.

Menyusul Tunisia, kemudian adalah Mesir yang mengalami gejolak politik hebat di mana jutaan orang turun ke jalan menuntut Presiden Mubarak yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun untuk mundur. Demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan terjadi di ibukota dan kota-kota utama. Negara-negara kemudian mengevakuasi warganya yang berada di sana, termasuk Indonesia.

Menurut database Direktorat Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Internasional, Kementerian Luar Negeri RI tahun 2010, jumlah WNI yang berada di luar negeri yang melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) seluruhnya tidak kurang dari 3.353.631 orang. Dari jumlah itu, jumlah yang terbesar adalah TKI yaitu 2.029.528 orang, yang mayoritas bekerja di sektor informal. Lainnya adalah para professional sejumlah 269.400 orang, anak buah kapal sejumlah 198.461 orang, pelajar dan mahasiswa 665.746 orang dan WNI yang menikah dengan WNA sejumlah 190.496 orang.

Sementara, menurut data ketenagakerjaan (BNP2TKI, 2009), jumlah pekerja migran Indonesia (TKI) di luar negeri hingga tahun 2009 mencapai tidak kurang dari 6 juta orang, yaitu 2.513.233 orang TKI di Timur Tengah dan Afrika; 3.083.645 orang di Asia Pasifik, dan sisanya 18.338 orang di Amerika dan 8.881 orang di Eropa.

Negara-negara Timur Tengah sejak lama sudah menjadi negara penempatan TKI terutama di sektor informal yang mayoritas perempuan dan kebanyakan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Data dari BNP2TKI tahun 2009 menunjukkan ada sebanyak 2.167.824 TKI di Arab Saudi, 144.459 orang di Uni Emirat Arab, 27.017 di Yordania, 23.578 orang di Qatar. Sementara di Tunisia dan Oman tercatat 15.925 TKI dan sisanya 9.678 TKI tersebar di negara-negara Timur Tengah lainnya.

Konflik politik skala sangat tinggi yang menimbulkan kerusuhan massa dan evakuasi warga di Mesir, berpengaruh pula pada Indonesia. KBRI di Kairo telah mengerahkan armada penerbangan Garuda Indonesia untuk mengangkut evakuasi WNI dari Mesir ke Indonesia. Diberitakan bahwa KBRI siap mengevakuasi 6.149 warga Indonesia, yang disebutkan bahwa 4.297 orang di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa.

Gejolak konstelasi politik internasional ini dikuatirkan berpotensi merambah pada negara-negara Timur Tengah lainnya yang memiliki karakter kepemimpinan nasional sama yaitu pemimpin nasional yang sangat lama menduduki kekuasaan negara. Bila itu terjadi, bukan tidak mungkin gejolak yang sama juga terjadi di negara-negara di mana Saudi Arabia di mana TKI sangat banyak terdapat. Upaya perlindungan TKI di sana menjadi masalah krusial.

Dalam Diskusi The Indonesian Forum Seri 1 tanggal 1 Februari 2011 yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute, menyeruak keprihatinan terhadap kepedulian dan tindakan nyata Pemerintah terhadap perlindungan TKI di luar negeri, terutama TKI di sektor informal. Masih tidak dapat dipungkiri bahwa nasib TKI di negara-negara Timur Tengah masih memprihatinkan perlindungannya.

Rumusan dalam peraturan perundangan pun yang disebutkan adalah Penempatan dan Perlindungan TKI, yang artinya yang menjadi prioritas di tempat pertama adalah penempatan, di mana perlindungan dianggap sebagai sub ordinat dari penempatan. Kritik di sini adalah semestinya Pemerintah pola pikirnya adalah menempatkan konsep perlindungan sebagai konsep holistik, di mana perekrutan, seleksi, pelatihan, pemberangkatan, penempatan hingga pemulangan kembali TKI ke tanah air, sebagai satu kesatuan pola manajemen TKI di luar negeri.

Ketika terjadi evakuasi WNI dari Tunisia dan Mesir, yang mengemuka adalah Pemerintah menjamin dan mengupayakan evakuasi WNI yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa, keluarga diplomat, dan sebagainya.

Pertanyaan yang menyeruak adalah bagaimana nasib para TKI informal, yang nasib mereka sebagai pekerja di sana pun banyak mengalami penyiksaan dan perlakuan salah. Apakah Pemerintah memberi perhatian yang luas pada upaya penyelamatan TKI informal, yang sejak diberangkatkan, dipekerjakan, hingga kepulangan ke tanah air (bagi yang selamat dari penyiksaan dan perlakuan salah) banyak mengalami kondisi terpinggirkan, dan tereksploitasi?

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute
antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: