Home > Wacana > Dua Kecelakaan Perbankan

Dua Kecelakaan Perbankan


Pada waktu bersamaan, terjadi dan terungkap dua kecelakaan perbankan yang terkait nasabah. Celaka pertama, insiden tewasnya Irzen Octa yang diduga terkait permasalahan penagihan tunggakan kartu kredit. Celaka kedua, kasus pembobolan dana nasabah oleh Melinda Dee dan Selly, yang diduga menyalahgunakan profesinya sebagai personal banker. Kedua kasus itu melibatkan bank internasional Citibank. Bagaimana perlindungan nasabah perbankan dalam kredit dan deposit dana perbankan?

Kedua kasus tersebut menjadi insiden kecelakaan dunia perbankan yang menimpa nasabah. Pada insiden Irzen Octa, bahkan merenggut nyawa dengan kematian Irzen. Nilai nominal penagihan hutang kartu kredit sebesar 48 juta rupiah yang kemudian bunga berbunga menjadi 100 juta rupiah. Kasusnya masih diselidiki oleh Kepolisian. Pada kasus Melinda dan Selly, kerugian nasabah mencapai tidak kurang dari 17 milyar.

Data Bank Indonesia mencatat bahwa tidak kurang dari 20 penerbit kartu kredit di Indonesia, dengan 5 prinsipal kartu kredit yaitu Amex, JCB, Mastercard, Visacard, dan China Unionpay. Jumlah kartu kredit yang beredar 11.548 juta kartu pada 2008, lalu meningkat menjadi 12.259 juta kartu pada 2009 dan 13.574 juta kartu pada akhir 2010. Sepanjang 2010 tercatat 4.361 juta transaksi tunai senilai Rp 4,521 triliun dan 194,675 juta transaksi belanja senilai Rp 158,687 triliun.

Seperti kasus kecelakaan lalu lintas, pada insiden-insiden tersebut bisa jadi ada ketidakhati-hatian atau kecerobohan atau kelengahan. Akibatnya fatal, dana melayang, hingga jiwa melayang. Hutang (kredit) menumpuk dan bunga berbunga; dan pada kejadian yang satunya, dana simpanan (deposit) hilang berpindah tangan.

Bagaimana perlindungan nasabah dalam hal-hal ini? Terdapat masalah-masalah perlindungan nasabah dalam hal kredit dan deposit. Seringkali masalah terjadi karena informasi yang tidak simetris.

Dalam praktek kartu kredit, di satu sisi nasabah dibanjiri informasi yang bersifat iming-iming dan menarik calon nasabah untuk melakukan aplikasi pembuatan kartu kredit. Informasi disampaikan oleh tenaga marketing bank penerbit kartu kredit dengan target aplikasi kartu kredit oleh nasabah sebanyak-banyaknya.

Jangan harap informasi yang diberikan seimbang dengan sama banyaknya informasi tentang aturan main penggunaan kartu kredit, dan konsekuensi yang ditimbulkan. Informasi tentang bunga hutang dari pembelanjaan dan penarikan dana kredit, ketentuan jatuh tempo, perhitungan dan jadwal bunga; konsekuensi bunga berbunga; tidak pernah atau minim sekali disampaikan kepada nasabah dan calon nasabah.

Apalagi praktek tenaga penagih hutang (debt collector). Aturan mainnya begitu gelap dan terkesan praktek teror dan premanisme. Semua cara dihalalkan untuk menagih pembayaran hutang pada nasabah yang pada prakteknya sudah jatuh pada jeratan hutang dan bunga berbunga kartu kredit, sehingga tidak mampu melunasi hutang.

Seperti komentar yang disampaikan pembaca berita online, “pada waktu promosi aplikasi kartu kredit, (calon) nasabah diperlakukan manis dengan iming-iming yang memabukkan; sementara ketika nasabah sudah terjerat hutang dan bunga berbunga tidak bisa bayar hutang, nasabah diperlakukan seperti maling yang tertangkap tangan”. Komentar itu menunjukkan betapa tidak simetrisnya perlakuan bank penyelenggara kredit terhadap masyarakat nasabah.

Dalam praktek penyimpanan (deposit) dana melalui personal bankers, nasabah juga biasanya mengalami iming-iming yang memabukkan. Entah nasabahnya yang begitu mudahnya tergoda atau memang informasi perbankan yang tidak jelas bagi nasabah.

Masalah kredit dan deposit perbankan menyangkut masalah etika perbankan. Bagaimana di satu sisi perbankan dan staf perbankan berusaha menarik keuntungan sebanyaknya dari nasabah; di sisi lain kehati-hatian nasabah agar tidak mengalami celaka perbankan, perlu diperhatikan.

Pihak-pihak yang “netral” dalam hal ini, seperti Bank Indonesia dan Lembaga Perlindungan Konsumen seharusnya mewaspadai kemungkinan “kecelakaan” perbankan seperti yang terjadi ini. Pendidikan masyarakat tentang penggunaan kartu kredit perlu dipastikan bahwa masyarakat yang berpotensi terpikat pada godaan kartu kredit betul-betul memahami fungsi dan aturan main kartu kredit. Bila di sisi pengusaha perbankan terdapat praktek kehati-hatian (prudential banking) maka di sisi masyarakat nasabah perbankan perlu dibina praktek bijak dalam memanfaatkan produk dan layanan perbankan. Sungguh tidak etis apabila perbankan justru menangguk keuntungan dari ketidaktahuan nasabah.

Penjelasan tentang peraturan penggunaan kartu kredit, perhitungan bunga, ketentuan jatuh tempo dan konsekuensinya perlu jelas-jelas dan selengkap mungkin informasinya disebarluaskan ke masyarakat. Penjelasan tentang aturan simpanan dana di bank dan seluk beluknya, termasuk suku bunga yang realistis, perlu selengkap mungkin disampaikan pada nasabah. Praktek “debt collector” kalaupun dibolehkan, mestinya dikelola oleh bank, sehingga ada tanggung jawab terhadap akibat-akibatnya.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute
antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: