Home > Wacana > Uang untuk Anak Jalanan?

Uang untuk Anak Jalanan?


Rencana program Kementerian Sosial untuk memberikan dana langsung berupa tabungan tunai untuk 4.500 anak jalanan di Jakarta masing-masing Rp 1,4 juta per tahun sangat dipertanyakan. Banyak hal mendasar yang perlu dipertanggungjawabkan dari filosofi, tujuan, strategi, mekanisme, dan target yang diharapkan.

Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial menjelaskan bahwa program ini sedang dalam proses, sudah ada target-targetnya, sudah ada desainnya dan tinggal pelaksanaan. Nantinya ribuan anak jalanan di Jakarta akan diberikan bantuan langsung berupa dana tunai yang ditransfer ke rekening tabungan masing-masing anak jalanan. Mekanisme jangkauan anak-anak yang menerima bantuan dana langsung ini adalah melalui rumah singgah.

Program ini dari nominal angkanya juga akan besar. Target pertama sejumlah 4.500 anak jalanan di Jakarta, bila masing-masing menerima dana langsung sebesar Rp 1,4 juta per tahun maka total dananya adalah Rp 6,3 milyar. Bila periode selanjutnya ditargetkan 8.000 anak di Jakarta maka total biayanya adalah Rp 11,2 milyar. Belum lagi targetnya pada 2014 adalah bantuan dana langsung ini akan dikucurkan ke tabungan untuk anak-anak jalanan di seluruh Indonesia, pastinya jumlah kucuran dana langsung yang sangat besar sekali.

Rencana program ini seolah-olah tidak mengenal nasehat bijak, “Jangan beri ikannya, tapi beri kailnya”. Uang tunai walau diberikan berupa tabungan, dapat langsung habis, berapa pun jumlahnya. Bagi satu individu anak, mungkin jumlah yang kecil; namun apabila dana kucuran ini dimobilisasi, diinvestasikan pada fasilitas “kail” misalnya untuk program-program income generating mungkin akan lebih efektif dalam jangka panjang.

Program-program income generating pun problematik, karena apabila mengupayakan perbaikan nasib anak-anak jalanan dengan program-program bantuan usaha, keterampilan, dan pekerjaan yang mendatangkan penghasilan, ini dapat mendorong kita menciptakan pekerja anak, yang seharusnya tidak diperbolehkan.

Kembali ke rencana program bantuan dana langsung untuk anak jalanan, bila dikatakan bahwa tujuan dari program ini adalah mengurangi jumlah anak jalanan, patut dipertanyakan bagaimana strategi dan mekanisme yang tepat untuk menarik anak dari jalanan.

Mengurangi anak di jalan, idealnya ada konsep strateginya; menarik anak dari jalan, lalu mengembalikannya ke sekolah, ke rumah, ke keluarga, atau ke komunitas, atau ke mana? Ini yang tidak tersentuh oleh program kucuran dana langsung ini.

Upaya menghapus anak jalanan memang kompleks. Perlu dikaji lebih jelas mengapa anak turun ke jalan menjadi anak jalanan. Karena alasan ekonomi, putus sekolah, konflik keluarga/rumah tangga, dorongan sosial, dan lainnya.

Faktor ekonomi pun menjadi problem yang kompleks. Keluarga miskin di mana orang tua tidak dapat menafkahi keluarga, lalu anak terpaksa turun ke jalan untuk mengamen hingga mengemis bahkan menodong. Keluarga miskin di mana tidak ada biaya untuk anak melanjutkan sekolah sehingga anak berhenti sekolah, daripada menganggur di rumah tidak ada kegiatan, lalu karena dorongan orang tua, teman, atau kemauan sendiri anak turun ke jalan untuk bekerja serabutan, mengemis, atau menodong.

Upaya menghapus anak jalanan dapat dilakukan dengan mengembalikan anak-anak jalanan kembali ke sekolah dan keluarga. Kembali ke sekolah, memerlukan biaya sekolah, apalagi pendidikan di sekolah belumlah gratis. Ini masih menjadi tanggung jawab Pemerintah, sesuai amanat Undang-Undang Dasar. Selain pasal kewajiban Pemerintah membiayai pendidikan dasar, juga kewajiban Pemerintah untuk menjamin hidup anak-anak miskin dan terlantar.

Program kucuran dana langsung untuk anak, berupa pemberian tabungan tunai sebesar Rp 1,4 juta bagi masing-masing anak jalanan, bisa jadi merupakan upaya pencitraan semata. Upaya untuk “cuci tangan” dengan melakukan hal yang mudah dilakukan oleh pelaksana, instan, dan hasilnya pun instan pula. Efektivitasnya? Masih dipertanyakan lagi. Belum lagi mekanismenya yang mengundang celah-celah korupsi dan manipulasi.

Dampak negatifnya pun perlu diantisipasi yaitu peluang untuk justru “memupuk dan melestarikan” anak-anak jalanan, dengan adanya “insentif” kucuran dana langsung, justru menjadi gula-gula yang menarik anak-anak keluarga miskin untuk turun ke jalan, mengeksistensikan dirinya sebagai anak jalanan dengan segala problematikanya.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute
antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: