Home > Wacana > Pendidikan atau Habitus Pancasila?

Pendidikan atau Habitus Pancasila?


Momentum peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni kali ini diramaikan dengan wacana publik tentang kerinduan reaktualisasi Pancasila. Masyarakat merasakan kehilangan dan vakumnya nilai-nilai Pancasila di relung-relung kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Pendidikan Pancasila didesak untuk diaktualisasikan lagi di kurikulum sekolah. Efektifkah dengan mengembalikan Pancasila ke dalam silabus pendidikan di sekolah?

Politisasi Pancasila sehingga pasca Orde Baru tumbang, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dihapuskan dari kurikulum sekolah, sebagai penolakan terhadap simbol-simbol Orde Baru. Pasca Orde Baru tumbang, masyarakat dengan euforia reformasi seolah menjadi alergi dengan semua simbol dan produk Orde Baru. Materi-materi formal pendidikan Pancasila seperti PMP (Pendidikan Moral Pancasila), Butir-Butir Pancasila, Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) menjadi dijauhkan oleh masyarakat, karena dianggap simbol-simbol ideologi Orde Baru.

Kini wacana publik melontarkan kembali pengakuan atas esensi sila-sila dari Pancasila sebagai rumusan ideologi negara Indonesia yang sangat ideal dan menjadi tumpuan norma keselarasan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Diagnosis kebobrokan dan kegagalan negara dan pemerintahan Indonesia saat ini banyak menyebutkan bahwa semua terjadi karena butir-butir penghayatan dan pengamalan Pancasila absen dalam tata kelola pemerintahan dan tingkah laku masyarakat sehari-hari.

Butir-butir pengamalan sila-sila dari Pancasila yang berisi 36 butir penjabaran praktis dari ke-5 sila Pancasila, bila ditelaah satu demi satu, semua mengandung pedoman yang dapat mengarahkan hidup bermasyarakat menjadi sangat baik dan indah dan manusiawi. Namun apakah semuanya itu menjadi cara hidup (way of life) seperti dicita-citakan oleh penggagas negara ini?

Dalam perspektif psikologis, pengamalan ideologi dalam tindakan nyata sehari-hari tergantung pada reinforcement (penguatan perilaku). Pelaksanaan ideologi dalam sikap dan perbuatan yang dialami dan diyakini (experienced and perceived) memberikan manfaat dan imbalan positif (positive rewards) akan membuat sikap dan perbuatan itu dipertahankan. Contoh sederhana, pengalaman memetik manfaat lancar dari tindakan antre, akan membuat perilaku antre dipertahankan dan menjadi kebiasaan yang diyakini memberi manfaat. Pembelajaran ini memerlukan proses insight dari pengalaman langsung atau melihat pengalaman orang lain, atau persuasi dan advokasi dari pihak lain.

Manusia juga merupakan makhluk instrumentalis, yang melihat dan mempraktekkan cara-cara hidup sebagai alat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Ideologi dan cara hidup dipraktekkan apabila diyakini dengan itu manusia dapat mencapai apa yang diinginkannya dan bernilai bagi dirinya. Oleh karena itu, pada titik di mana masyarakat mengalami pengalaman dan keyakinan (experience dan belief) pengamalan prinsip-prinsip Pancasila dalam interaksi bermasyarakat membawa keselarasan hidup, ketentraman hidup, kehidupan manusiawi dan beradab, dan kesejahteraan sosial, maka nilai-nilai itu akan dipertahankan untuk terus dipraktekkan dan diwariskan pada generasi ke generasi.

Ideologi Pancasila belakangan ini tergusur kalah bersaing dengan ideologi agama dan keyakinan radikal yang lebih gencar menjanjikan pahala bagi manusia. Terminologi agama dengan menjanjikan surga bagi penghayat dan pengamal ajaran agama menjadi lebih menarik masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai itu. Politik identitas berlatar agama di banyak tempat telah menggiring kelompok-kelompok masyarakat menjauh dari beberapa sila-sila Pancasila yang di dalamnya menjamin toleransi antar umat beragama dan menjunjung hak asasi antar manusia. Benturan ini menjadi posisi Pancasila menjadi dilemahkan ditambah lagi dengan sentimen anti simbol Orde Baru yang mendiskreditkan Pancasila.

Kerinduan reaktualisasi butir-butir penghayatan dan pengamalan Pancasila menjadi momentum untuk menghidupkan habitus Pancasila. Dalam literatur, habitus berarti kebiasaan dan cara berperilaku yang dipelajari secara sosial, melalui perilaku dan pengalaman sehari-hari. Pembelajaran sosial dapat terjadi berbagai cara, salah satunya melalui model-model perilaku pemimpin, guru, kepala keluarga, tokoh, tetua, dan sebagainya yang mengajarkan pada masyarakat praktek-praktek Pancasila dan manfaatnya bagi interaksi bermasyarakat. Konteks pendidikan Pancasila dengan demikian dapat diterapkan lebih luas dari pendidikan formal di sekolah, dan tidak terjebak sebatas jargon-jargon ideologis.

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute
antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: