Home > Wacana > Kita dan Persepsi Korupsi

Kita dan Persepsi Korupsi

February 13, 2012 Leave a comment Go to comments

Sebuah film berjudul “Kita Versus Korupsi” (2012) disajikan untuk masyarakat guna menggugah perhatian dan kesadaran masyarakat tentang praktik korupsi yang diam-diam maupun terbuka sudah merajalela di segala lapisan masyarakat. Ada hal yang menarik dari substansi pesan yang disampaikan melalui medium film ini yaitu mengajak kita mempertanyakan kembali persepsi kita masing-masing tentang praktik korupsi.

Film ini dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan Transparansi Internasional Indonesia (TI-Indonesia) dan Program SIAP 1 dari MSI USAID. Pemutaran untuk masyarakat umum pertama kali dilakukan pada 27 Januari 2012 di Jakarta, dan dijadwalkan diputar untuk umum bergiliran di 17 kota. Di Jakarta, pemutaran film ini disambut baik oleh masyarakat yang ramai menyaksikan bersama, dan umumnya kesan masyarakat cukup baik dan banyak yang merasa tergugah.

Singkat kata, film “Kita Versus Korupsi” dibuat oleh insan-insan film muda Indonesia, dengan cukup baik menyajikan 4 kisah yang berbeda tokoh, waktu, dan kejadian. Keempat film pendek (masing-masing sekitar 15 menit) dikompilasi dalam satu film, semua berkisah tentang situasi-situasi dilematis yang terjadi di sekitar kita, bahkan kita sendiri alami, di mana orang dihadapkan atau terlibat dalam praktik korupsi.

Secara sinematografi, film “Kita Versus Korupsi” ini tampil cukup baik, dalam kualitas audio visualnya, juga dalam kualitas editing film. Bila kita membandingkan dengan film-film layar lebar produksi Indonesia hingga hari ini, film “Kita Versus Korupsi” ini dapat dikatakan ada di kualitas yang cukup prima. Kualitas sinematografi yang prima ini membuat film ini enjoyable, dapat dinikmati oleh pemirsa, walau film ini mau tidak mau adalah film “nasehat” yang umumnya secara psikologis sering mengalami resistensi untuk ditonton orang banyak. Daya tarik pemeran-pemerannya yang tidak sedikit dari aktor aktris yang sangat populer, merupakan daya tarik film ini.

Film ini sebagai medium kampanye publik anti korupsi, menjadi menarik karena dengan segala keterbatasannya berhasil membidik multi-lapisan masyarakat, dan multi-situasi peristiwa di masyarakat, terkait praktik korupsi, yang dari dulu hingga sekarang; di sini dan di sana, mereka dan kita. Paling tidak, film ini berhasil menciptakan ruang-ruang dari jalinan kisah yang diperlihatkan, dan representasi dari tokoh-tokoh yang diceritakan, bagi penontonnya untuk berefleksi menempatkan dirinya entah di bagian mana atau tokoh mana, yang sama dengan situasi tindak korupsi yang mungkin pernah dirasakan atau dilihat atau bahkan dialami sendiri.

Bila kita juga mengakui bahwa praktik korupsi di masyarakat kita sudah begitu merajalelanya, tentu kita juga sependapat bahwa permasalahan korupsi begitu kompleks untuk dicuplik dalam 4 fragmen di film ini. Pada akhirnya, refleksi penonton ketika atau setelah menonton film ini adalah kembali kepada pertanyaan mendasar tentang persepsi masing-masing kita tentang “apa itu korupsi”. Sikap dan tindakan apa saja yang termasuk perbuatan korupsi? Pernahkah kita sendiri melakukan korupsi?

Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti itu menjadi penting, ketika di tempat lain kita juga menyimak kasus-kasus korupsi “besar” yang terjadi di panggung masyarakat. Seperti ada terbaca di sebuah timeline Twitter, sebuah pertanyaan, “Mengapa para pelaku korupsi itu tidak pernah merasa bersalah?”

Bisa jadi jawabnya karena setiap (tertuduh maupun terbukti) korupsi, masing-masing punya persepsinya sendiri tentang batasan pengertian korupsi. Misalnya, “saya tidak bersalah, saya tidak pernah menerima uang itu sepeserpun” (karena mungkin, de facto, ada kucuran dana yang masuk ke rekeningnya terkait kongkalingkong pengadaan proyek, namun dia merasa hanya perantara “uang pelicin” yang disalurkan ke pihak lain, sehingga dia sendiri merasa tetap bersih, tidak bersalah, karena “tidak ikut makan uangnya”).

Keempat fragmen film “Kita Versus Korupsi” bila disimak, memunculkan komplikasi antara situasi yang secara subyektif maupun obyektif mungkin dianggap sebagai gratifikasi, insentif, suap, mencari keuntungan lebih, memanfaatkan situasi, jalan pintas, menggunakan jabatan/kekuasaan, mark-up, dsb. Sementara di sisi lain, seringkali orang tidak merasa melakukan korupsi karena mempersepsi bahwa yang ia lakukan adalah ‘‘mendapat rejeki karena situasi atau posisi’ (misalnya kisah di fragmen 3), ‘mendapat penghasilan dan keuntungan lebih karena usaha/akal’ (misalnya kisah di fragmen 4).

Situasi-situasi ambigu demikian sering terjadi, di mana orang seringkali berada pada persimpangan persepsi antara sah-tidak sah, halal-haram, boleh-tidak boleh, korupsi-bukan korupsi. Film “Kita Versus Korupsi” mengajak kita kembali ke pemahaman atau persepsi tentang korupsi. Kapan seseorang disebut korupsi, kapan tidak.

Sebagai pengingat, definisi “resmi” persepsi korupsi, menurut perspektif hukum didefinisikan di UU No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi. Tiga puluh bentuk/jenis tindak yang dikategorikan pidana korupsi dalam UU itu kemudian diintisarikan menjadi 7 kelompok (a) kerugian keuangan negara, (b) suap-menyuap, (c) penggelapan dalam jabatan, (d) pemerasan, (e) perbuatan curang, (f) benturan kepentingan dalam pengadaan barang/jasa, (g) gratifikasi. Sementara bila kita kembali ke akar kata “korupsi” adalah “corruptio” yang artinya adalah busuk, rusak (seperti digerogoti), yang mewujud dalam sikap dan tindakan-tindakan yang “nama resmin”nya ada di butir a s.d. f di atas itu..

Tantangannya adalah bagaimana orang per orang sampai pada integritas diri, yang mampu menjauhkan sikap dan perilaku korup, mulai dari hal kecil, mulai dari rumah/keluarga, mulai dari diri sendiri…

Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute antonwk@cbn.net.id

Categories: Wacana
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: