Home > Update Indonesia > Wacana Penyatuan Zona Waktu Indonesia

Wacana Penyatuan Zona Waktu Indonesia


Bila jadi direalisasikan, maka terhitung tanggal 17 Agustus 2012, seluruh Indonesia akan menjadi satu nusa, satu bangsa, dan juga satu waktu. Tidak ada lagi perbedaan waktu, seperti yang sekarang ada, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Nantinya, seluruh Indonesia ditetapkan menjadi satu zona waktu saja, yaitu Waktu Indonesia, dengan menggunakan patokan waktu yang sekarang digunakan sebagai WITA, yaitu GMT+8.

Ada beragam tanggapan tentang rencana ini. Wacana yang bergulir, tidak hanya agar Indonesia memberlakukan satu zona waktu, tapi juga usulan alternatif lain, yaitu dua zona waktu saja. Gagasan utama yang mendorong usulan penyatuan zona waktu adalah upaya untuk efisiensi birokrasi dan ekonomi.

Mengingat pengaturan zona juga harus memperhatikan aspek geografis, biologis, dan sosiologis, dan rentang wilayah Indonesia sangat luas, maka kemudian juga muncul gagasan pembagian zona waktu yang ideal untuk Indonesia adalah dua zona waktu.

Zona waktu

Standar waktu dunia disepakati secara internasional berpatokan pada Greenwich Mean Time (GMT). Standar waktu ini ditetapkan dihitung dari garis imajiner pada nol derajat Bujur Timur, yang terletak di Greenwich, London, Inggris. Tengah hari GMT (atau pukul 12 GMT) adalah saat matahari berada di titik tertinggi di atas garis bujur nol derajat atau Greenwich Meridian.

Kemudian setiap selisih 15 derajat jauhnya antar satu tempat dengan tempat lain di lokasinya di bola bumi, ditetapkan perbedaan waktu 1 jam. Standarisasi waktu berdasarkan letak koordinat suatu tempat di bumi, dikenal dengan Coordinated Universal Time (disingkat UTC), berpatokan pada selisih waktu dari GMT.

Sehingga kemudian, Indonesia yang terletak di koordinat 97° BT – 141°BT memiliki perbedaan waktu antara 7 sampai 9 jam dari waktu di Greenwich, atau biasa disebut GMT+7 hingga GMT+9. Untuk waktu setempat, setiap negara dapat menyesuaikan sendiri zona waktu yang diberlakukan.

Misalnya, Indonesia saat ini memberlakukan tiga zona waktu, yaitu WIB (GMT+7) meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat dan Tengah; WITA (GMT+8) meliputi Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi; serta WIT (GMT+9) meliputi Maluku dan Papua.

Penyesuaian zona waktu di berbagai negara

Pemberlakukan zona waktu setempat di setiap negara ternyata kemudian tidak hanya berdasarkan geografis, namun juga pertimbangan ekonomi politik tertentu.

Indonesia sendiri terhitung dari masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang telah berganti-ganti penetapan zona waktu tidak kurang dari lima kali perubahan. Antara lain pada jaman penjajahan Jepang, seluruh Indonesia memakai waktu GMT+9, mengikuti zona waktu Tokyo. Perubahan lain terjadi pada tahun 1947, 1950an, dan 1963.

Terakhir pada 1987, Bali yang semula dimasukkan di zona WIB diubah menjadi masuk zona WITA. Pulau Kalimantan saat ini terbagi menjadi dua zona waktu, Kalimantan Barat dan Tengah masuk WIB dan Kalimantan Timur masuk WITA. Ini juga hasil dari beberapa kali perubahan pembagian zona waktu Indonesia.

Negara-negara lain dengan wilayah rentang timur-barat yang luas, seperti Amerika, Cina, Rusia dan India, juga memiliki rentang perbedaan waktu menurut standar GMT/UTC yang cukup besar. Negara-negara ini ada yang tetap menerapkan pembagian zona waktu berdasarkan perbedaan rentang derajat koordinat bujur timur-baratnya, ada pula yang menetapkan zona waktunya berdasarkan pertimbangannya sendiri.

Cina misalnya, menurut rentang derajat bujur timur-baratnya, sebetulnya memiliki setidaknya empat zona waktu (GMT+5,5 hingga GMT+8,5); namun sejak tahun 1949 Cina menerapkan satu zona waktu saja untuk seluruh wilayahnya yaitu GMT+8. Dengan satu zona waktu ini, di bagian paling barat Cina ketika jam menunjukkan pukul 15.00, saat itu matahari posisinya masih tepat di atas kepala. Sementara, di paling timur Cina, matahari terlihat tepat di atas kepala saat jam menunjukkan pukul 11.00.

Rusia yang wilayah negaranya juga sangat luas rentang timur-baratnya, sejak 28 Maret 2010 telah  mengurangi zona waktunya dari 11 menjadi 9. Sementara, Amerika yang juga sangat luas rentang timur-baratnya, tetap memberlakukan empat zona waktu, sejak tahun 1918 hingga sekarang.

Rusia mengurangi zona waktunya dengan pertimbangan bahwa perbedaan zona waktu menyebabkan negara kurang efisien dan membutuhkan teknologi yang mahal. Perbedaan zona waktu dalam satu negara memang umumnya memerlukan penyesuaian pada perbedaan jam aktivitas antar penduduk di wilayah-wilayah dalam zona waktu yang berbeda.

Polemik penyatuan zona waktu Indonesia

Apa saja polemik yang muncul menanggapi rencana Pemerintah untuk menyatukan zona waktu Indonesia? Pendapat yang mendukung umumnya muncul dari kalangan atau pertimbangan yang pro efisiensi birokrasi dan ekonomi. Pendapat yang kurang setuju umumnya muncul dari kalangan atau pertimbangan yang melihat lebih luas pada aspek non ekonomi, seperti aspek geografis, sosiologis, dan juga biologis manusia.

Pendapat yang pro, umumnya menafikan faktor geologis wilayah Indonesia yang rentang wilayahnya sangat luas, mencakup tiga zona sesuai UTC. Sementara pendapat yang kontra, umumnya mengingatkan agar tidak mengesampingkan faktor geologis yang berkonsekuensi pada biologis manusia, mengingat bahwa perbedaan waktu mengikuti pergerakan alam merupakan hal yang natural.

Kalangan birokrat, ekonomi, dan dunia usaha antara lain dari Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), Bank Indonesia, Pemerintah serta DPR, cenderung mendukung rencana penyatuan zona waktu ini dengan harapan mendorong efisiensi birokrasi dan peningkatan daya saing ekonomi.

Dikatakan bahwa penyatuan zona waktu akan memperpanjang waktu efektif untuk ruang transaksi bisnis, dan kesamaan jam aktivitas kerja dan dunia usaha di seluruh Indonesia, serta bisa mulai dan selesai pada saat yang sama juga dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, yang juga menerapkan zona waktu GMT+8.

Kalangan praktisi, termasuk pula peneliti dari Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan) dan beberapa praktisi ekonomi, mengkuatirkan penyatuan zona waktu Indonesia justru akan menimbulkan inefisiensi pada beberapa hal baik di kawasan barat dan timur Indonesia, karena penyesuaian dengan faktor-faktor non ekonomi tetap akan terjadi.

Misalnya di bagian barat akan dibutuhkan waktu istirahat kerja yang lebih panjang karena menyesuaikan waktu sholat siang. Masyarakat di kawasan barat secara biologis dan psikologis akan menjadi lebih terburu-buru sementara masyarakat di kawasan timur sebaliknya akan menjadi lebih santai. Kalangan ini mengusulkan alternatif jalan tengah yaitu perubahan zona waktu bukan menjadi satu zona, melainkan dua zona, di mana perbedaan satu jam masih lebih dapat ditolerir.

-Antonius Wiwan Koban-

Gagasan utama yang mendorong usulan penyatuan zona waktu adalah upaya untuk efisiensi birokrasi dan ekonomi. Mengingat pengaturan zona juga harus memperhatikan aspek geografis, biologis, dan sosiologis, dan rentang wilayah Indonesia sangat luas, maka kemudian juga muncul usulan pembagian zona waktu yang ideal untuk Indonesia adalah dua zona waktu.

Categories: Update Indonesia
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: